Selasa, November 20, 2012

Perbedaan Bukan RAHMAT, Berbeda Itu SYARAT


1. Ketidak-Utamaan Berselisih

# “Janganlah kamu berselisih, karena kamu akan menjadi lemah dan hilang kewibawaan kamu.” (QS. Al-Anfal: 46)
# “Janganlah kamu seperti orang-orang yang musyrik, yaitu mereka mencerai-beraikan agamanya dan bergolong-golongan. Dan setiap golongan berbangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (QS. Ar-Rum: 31-32)
# “Mereka terus-menerus berselisih kecuali orang yang mendapatkan rahmat dari Tuhannya.” (QS. Hud: 118-119)
# “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertaqwa.” (QS. Al-An’am: 153)

2. Mencari Jalan Keluar Apabila Terjadi Perbedaan

# “Jika kamu berselisih pendapat maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)

# Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:
Di kalangan orang-orang terdahulu ada seorang laki-laki yang telah membunuh 99 orang, lalu dia mencari orang yang banyak ilmunya, kemudian dia ditunjukkan kepada seorang rahib, lalu dia mendatanginya, kemudian dia katakan bahwa dia telah membunuh 99 orang, apakah tobatnya bisa diterima? Rahib itu menjawab, Tidak bisa.” Laki-laki itu membunuh rahib tersebut, sehingga genaplah 100 orang yang telah dibunuhnya.

Kemudian laki-laki itu mencari orang lain lagi yang paling banyak ilmunya, lalu dia ditunjukkan kepada seorang yang alim (berilmu), kemudian dia mengatakan bahwa dia telah membunuh 100 orang, apakah tobatnya bisa diterima? Orang alim itu menjawab, “Bisa. Tidak ada penghalang antara kamu dengan tobatmu. Pergilah ke daerah begini dan begini, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah Azza wa Jalla, lalu beribadahlah kepada Allah Azza wa Jalla bersama mereka dan janganlah kamu kembali ke daerahmu, karena daerahmu memang jelek.”

Laki-laki itu pergi. Sesampainya di tengah perjalanan dia mati, maka malaikat Rahmat berbantahan dengan Malaikat Adzab. Kata malaikat Rahmat, “Orang ini pergi untuk bertobat dengan menghadap kepada Allah dengan sepenuh hati.” Kata malaikat Adzab, “Orang ini tidak berbuat kebaikan sama sekali.”
Kemudian mereka didatangi oleh satu malaikat lain dalam wujud manusia, lalu mereka meminta keputusan kepadanya. Kata dia, “Ukurlah jarak yang terdekat dengan orang yang mati ini dari tempat berangkatnya dan dari tempat tujuannya. Ke mana yang lebih dekat maka itulah keputusannya.” Ternyata hasil pengukuran mereka adalah bahwa orang yang mati tersebut lebih dekat ke tempat tujuannya, maka dia dalam genggaman malaikat Rahmat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas menjelaskan kepada kita bahwa:
1. Para malaikatpun tidak terlepas dari perbedaan pendapat.
2. Perbedaan pendapat tidak dibiarkan berlangsung terus tanpa penyelesaian.
3. Perbedaan pendapat diselesaikan dengan mengambil cara/pendapat yang terbaik/ter-shahih.

 Jadilah MUSLIM Yang BERBRDA
Potongan firman Allah ta'ala yang disalahgunakan oleh kaum Zionis Yahudi untuk
menghasut atau melancarkan ghazwul fikri (perang pemahaman) agar kaum muslim
tidak mentaati sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk mengikuti
as-sawad al a'zham (mayoritas kaum muslim) adalah yang artinya

"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya
mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah" (QS Al An'Am [6]:116)

Padahal firmanNya selengkapnya adalah yang artinya

"Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya
mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah
mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap
Allah)" (QS Al An'Am [6]:116)

Jadi yang dimaksud "kebanyakan orang-orang yang di muka bumi" adalah
orang-orang yang mengikuti persangkaan belaka dan mereka tidak lain hanyalah
berdusta (terhadap Allah)" dan dari asbabun nuzul ayat tersebut mereka adalah
yang menghalalkan memakan apa-apa yang telah diharamkan Allah dan mengharamkan
apa-apa yang telah dihalalkan Allah, menyatakan bahwa Allah mempunyai anak.

Hadits yang disalahgunakan oleh kaum Zionis Yahudi untuk menghasut atau
melancarkan ghazwul fikri (perang pemahaman) agar kaum muslim tidak mentaati
sunnah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk mengikuti as-sawad al
a'zham (mayoritas kaum muslim) adalah
 
"Badaal islamu ghoriban wasaya'udu ghoriba kama bada'a fatuuba lil ghoroba" ,

"Islam datang dalam keadaan asing dan akan akan kembali asing maka beruntunglah
orang-orang yang asing itu".. (Hr Ahmad)

 Materi untuk kajian sore ini
semoga bermanfaar
Rabu,21 November 2012

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar