Rabu, November 14, 2012

Tradisi Malam 1 Suro


Selamat Tahun baru 1 Muharam 1344 H....Malam 1 Syura itulah pergantian tahun umat islam yang sebenarnya. Bukan pada tanggal 1 Januari nanti kita merayakan tahun baru dan apa gunanya kita umat islam merayakan tahun baru itu????
 
Bertambahnya tahun maka semakin berkurangnya jatah umur kita hidup di dunia. Semoga iman dan takwa seamakin menyala-nyala di bulan yang baru ini dan semoga kita termasuk hamba-hamba yang beruntung yang dapat mempergunakan setiap hembusan nafas ini untuk beribadah kepada ALLAH SWT. 

Di pulai Jawa pada tanggal 1 Syura sangat disakralkan dan banyak yang meyakini bulan ini bulan yang sakral bahkan pada bulan ini para warga takut melakukan pekerjaan yang besar. Banyak larangan -larangan yang di buat oleh adat JAwa itu sendiri seperti dilarang menikah diyakini jika menikah di bulan Syura maka ada salah satu yang meninggal. Jelas benar bukan hanya satu orang saja yang meninggal tapi semua manusia pasti akan meninggal dunia.


Bukan itu saja banyak keyakinan di bulan Syura ini Bulan pengampunan dan banyak warga yang masih melakukan padusan di sebuah kolam bersama-sama telanjang bulat campur antara putra dan putri. Mereka berkeyakinan dengan mandi di kolam itu mereka akan diampuni dosanya dan di beri berkah selama hidup di dunia,. Sungguh sangat menggelikan di zaman yang modern ini masih banyak yang berfikir pendek seperti itu. Naudzubillah.....


Salah satu tradisi yang kerap dilakukan di bulan Muharram ini adalah memandikan pusaka. Sebab bagi pandangan sebagian wong Jowo, benda-benda pun dianggap memiliki jiwa. Oleh karena itu, benda-benda itu harus diperlakukan istimewa yang nyaris sama seperti manusia itu sendiri. Karena itu benda-benda milik Keraton Yogyakarta seperti kereta, gamelan, maupun pusaka, semuanya memiliki nama seperti manusia. Ada Kiai Sangkelat, Kiai Nagasasra (keris), Kiai Guntur Madu (gamelan), ada pula Kanjeng Nyai Jimat dan Kyai Puspakamanik (kereta). 

Tidak kalah penting dan serunya berita di Solo baru-baru ini terjadi Kirab pusaka yang digelar Keraton Kasunanan Surakarta menyambut kedatangan Bulan Syura (Tahun Baru Hijriyah), yang diikuti sekitar 2.000 abdi dalem karaton, Selasa (7/12) malam hingga Rabu dinihari, mendapat sambutan meriah dari masyarakat. Acara tersebut diawali dengan selamatan kenduri mulai pukul 19.00 WIB  dilanjutkan Khol Pakoe Boewono (PB) X di Bangsal Maligi Keraton, lalu  tahlilan dilanjutkan Salat Hajad di Masjid Pudjasana.

Pukul 23.15 WIB abdi dalem keraton mendatangkan enam kerbau albino dewasa dan satu anak kerbau untuk dikirab bersama sembilan pusaka. Kirab pusaka ini mengambil rute dari keraton menuju kawasan Geladak - Telkom - Jalan Kapten Mulyadi-Baturono.

Selanjutnya iring-iringan pusaka dan kerbau Kiyai Slamet itu dibawa menuju keperempatan Gemblegan, kemudian ke utara arah Nonongan - Jalan Slamet Riyadi kembali lewat Gladak dan berakhir kembali ke keraton sekitar pukul 03.00 WIB Rabu (8/12) dini hari. Kirab pusaka untuk menyambut kedatangan bulan Syura itu merupakan tradisi yang sudah turun temurun.

Dalam kirab tersebut, pusaka keraton menjadi bagian utama pada barisan terdepan,  diikuti para pembesar keraton, kerabat dan jajaran keraton yang lengkap dengan pakaian adat, dan masyarakat. Uniknya, pada lapisan barisan terdepan ditempatkan pusaka yang berupa sekawanan kerbau albino yang diberi nama Kyai Slamet. Kerbau itu selalu menjadi perhatian tersendiri bagi masyarakat.

Masyarakat Solo dan sekitarnya sampai sekarang masih ada yang menganggap dengan menyaksikan kirab melihat kerbau tersebut akan mendapatkan berkah tersendiri. Peringatan menyambut kedatangan bulan Syura di Pura Mangkunegaran Solo jatuh Senin (6/12) malam, dan kirab pusaka dilakukan mengelilingi tembik Pura mangkunegaran mulai pukul 19.30 WIB.

Untuk pusaka yang dikirab ada enam tumbak yang dibawa keliling oleh para abdi dalem pura dan diikuti para pejabat pura lainnya, kata Sekretaris Panitia tersebut Mas Ngabehi Supriyanto Waluyo. "Kirab ini semua dimaksudkan untuk meminta kesalamatan Pura dan Negara Republik Indonesia kepada Tuhan," katanya.

Usai kirab dilanjutkan dengan ritual merebutkan air kembang dan uang logam oleh warga yang yang memadati di halaman pura tersebut. Bahkan sampai ada tiket masuk untuk menonton upacara tersebut.

Ini adalah ilmu dan semoga kita tidak masuk ke dalam lembah kemusyrikan tersebut....



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar