Selasa, Oktober 23, 2012

Puasa-Puasa Sunnah

 1. Puasa enam hari di bulan Syawwal

عَنْ اَبِى اَيُّوْبَ اْلاَنْصَارِيّ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ  ثُمَّ  اَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ

Dari Abu Ayyub Al-Anshariy, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa puasa Ramadlan lalu ia iringi dengan puasa enam hari dari Syawwal, adalah (pahalanya) itu seperti puasa setahun”. [HSR. Muslim juz 2, hal. 822]

عَنْ ثَوْبَانَ مَوْلَى رَسُوْلِ اللهِ ص عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص اَنَّهُ قَالَ: مَنْ صَامَ سِتَّةَ اَيَّامٍ بَعْدَ اْلفِطْرِ كَانَ تَمَامَ السَّنَةِ مَنْ جَاءَ بِاْلحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ اَمْثَالِهَا

Dari Tsauban bekas budak Rasulullah SAW dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Barangsiapa puasa enam hari sesudah Hari Raya ‘Iedul Fithri, adalah (serupa) sempurna setahun, (karena) barangsiapa mengerjakan kebaikan, maka ia mendapat pahala sepuluh kali ganda”. [HR. Ibnu Majah juz 1, hal. 547]



عَنْ ثَوْبَانَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: صِيَامُ شَهْرٍ بِعَشْرَةِ اَشْهُرٍ وَ سِتَّةِ اَيَّامٍ بَعْدَهُنَّ
بِشَهْرَيْنِ فَذلِكَ تَمَامُ سَنَةٍ يَعْنِى شَهْرَ رَمَضَانَ وَ سِتَّةَ اَيَّامٍ بَعْدَهُ
Dari Tsauban bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Puasa sebulan (Ramadlan) pahalanya sama dengan sepuluh bulan, dan enam hari sesudahnya pahalanya sama dengan dua bulan. Maka yang demikian itu (pahalanya) sama dengan puasa setahun penuh. Yakni bulan Ramadlan dan enam hari sesudahnya (Syawwal). [HR. Darimiy juz 2 hal. 21]
Keterangan :
a. Nabi SAW menggembirakan ummatnya agar suka  berpuasa  enam hari di bulan Syawwal, dengan menyatakan bahwa orang yang berpuasa satu bulan dibulan Ramadlan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawwal, maka pahalanya semisal dengan puasa setahun.
Pengertiannya demikian :
Puasa Ramadlan (yang biasanya 30 hari) pahalanya senilai berpuasa 300 hari, karena tiap-tiap satu hari mendapat pahala 10 kali lipat. Dan 6 hari di bulan Syawwal senilai dengan puasa 60 hari, sehingga semuanya berjumlah 360 hari atau sama dengan 1 tahun.
b. Enam hari dalam bulan Syawwal itu tidak mesti harus berturut-turut yang dimulai dari tanggal 2 (tepat sehabis hari raya) sebagaimana yang biasa dikerjakan oleh ummat Islam pada umumnya. Karena tidak ada penjelasan yang tegas dari agama atau keterangan yang sharih (terang) dan shahih (kuat) dari agama. Dan kita tidak boleh membuat ketentuan sendiri dalam masalah ‘ibadah. Jadi, boleh dan tetap dipandang sempurna oleh syara’ bila kita mengerjakan berselang-seling maupun berturut-turut yang tidak dimulai tanggal 2 Syawwal (tepat sehabis hari raya), yang penting masih dalam bulan Syawwal. Kalaupun hendak mengerjakan tepat sehabis hari raya dengan berturut-turutpun tidak mengapa, asal tidak dengan keyakinan bahwa itulah cara yang paling sah yang dituntunkan oleh syara’.
c. Hadits riwayat Muslim yang dijadikan dalil puasa Syawwal tersebut ada sebagian ‘ulama yang menganggap lemah, karena di dalam sanadnya ada rawi Sa’ad bin Sa’id bin Qais yang dicela oleh sebagian ulama ahli hadits. Namun sebagian ‘ulama ahli hadits yang lain berpendapat bahwa celanya Sa’ad bin Sa’id bin Qais tersebut tidak sampai menyebabkan hadits itu menjadi dlaif (lemah). Lagi pula hadits riwayat Muslim itu dikuatkan oleh dua hadits berikutnya yang diriwayatkan Ibnu Majah dan Darimiy dimana dalam sanadnya tidak terdapat rawi Sa’ad bin Sa’id bin Qais yang dipermasalahkan tersebut. Jadi hadits itu tetap bisa dipakai sebagai dalil. [Bagi yang ingin mengetahui identitas Sa’ad bin Sa’id bin Qais lebih lanjut silakan baca Tahdzibut-Tahdzib juz 3 hal. 408 no. 876, Mizanul I’tidal juz 2 hal. 120 no. 3109, Al-Jarhu wat Ta’dil juz 4 hal. 84 no. 370 dan Taqribut Tahdzib hal. 171 no. 2237]. Walloohu a’lam.
2. Puasa ‘Arafah

عَنْ اَبِى قَتَادَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَ مُسْتَقْبَلَةً. الجماعة الا البخارى و الترمذى
Dari Abu Qatadah ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Puasa pada hari ‘Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah) itu bisa menghapus dosa-dosa dua tahun, yaitu setahun yang lampau dan setahun yang akan datang”. [HR. Jama'ah kecuali Bukhari dan Tirmidzi]
Puasa ‘Arafah ini disyariatkan bagi orang-orang yang tidak sedang melaksanakan Hajji. Sedang bagi yang sedang berhajji di Padang ‘Arafah, maka tidak diperkenankan melaksanakannya sebagaimana riwayat di bawah ini :

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ ص عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ بِعَرَفَاتٍ. احمد و ابن ماجه
Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Rasulullah SAW melarang puasa ‘Arafah di padang ‘Arafah”. [HR. Ahmad dan Ibnu Majah]
3. Puasa Tasu’a dan ‘Asyura’
Tasu’a ialah hari yang ke-9 dari bulan Muharram, sedang ‘Asyura’ adalah hari yang ke-10 dari bulan tersebut.

عَنْ عَائِشَةَ رض قَالَتْ : كَانَتْ قُرَيْشٌ تَصُوْمُ عَاشُوْرَاءَ فِى اْلجَاهِلِيَّةِ وَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَصُوْمُهُ. فَلَمَّا هَاجَرَ اِلَى اْلمَدِيْنَةِ صَامَهُ وَ اَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ شَهْرُ رَمَضَانَ، قَالَ: مَنْ شَاءَ صَامَهُ وَ مَنْ شَاءَ تَرَكَهُ. البخارى و مسلم و الترمذى و ابو داود و ابن ماجه و احمد و مالك و الدارمى
 Dari ‘Aisyah RA, ia berkata : Adalah kaum Quraisy berpuasa ‘Asyura’ pada masa jahiliyah dan Rasulullah SAW juga berpuasa. Maka setelah berhijrah ke Madinah, beliau tetap berpuasa ‘Asyura’ dan memerintahkan kepada para shahabat untuk berpuasa pada hari itu. Maka setelah diwajibkan puasa di bulan Ramadlan, lalu beliau bersabda, “Barangsiapa yang ingin berpuasa ‘Asyura’ silakan berpuasa, dan barangsiapa yang ingin meninggalkannya silakan tidak berpuasa”. [HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, Malik dan Darimiy]

عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ اَبِى سُفْيَانَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: اِنَّ هذَا يَوْمُ عَاشُوْرَاءَ وَ لَمْ يُكْتَبْ عَلَيْكُمْ صِيَامُهُ وَ اَنَا صَائِمٌ. فَمَنْ شَاءَ صَامَ وَ مَنْ شَاءَ فَلْيُفْطِرْ. البخارى و مسلم
 Dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan, ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya hari ini adalah hari ‘Asyura’ tetapi tidak diwajibkan atas kamu puasa hari ini, sedang aku berpuasa. Oleh sebab itu, barangsiapa ingin berpuasa silakan berpuasa, dan barangsiapa ingin tidak berpuasa, silakan tidak berpuasa”. [HR. Bukhari dan Muslim]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رض قَالَ : قَدِمَ رَسُوْلُ اللهِ ص الْمَدِيْنَةَ فَوَجَدَ اْليَهُوْدَ يَصُوْمُوْنَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ فَسُئِلُوْا عَنْ ذلِكَ، فَقَالُوْا: هذَا اْليَوْمُ الَّذِيْ اَظْهَرَ اللهُ فِيْهِ مُوْسَى وَ بَنِيْ اِسْرَائِيْلَ عَلَى فِرْعَوْنَ، فَنَحْنُ نَصُوْمُهُ تَعْظِيْمًا لَهُ. فَقَالَ النَّبِيُّ ص: نَحْنُ اَوْلَى بِمُوْسَى مِنْكُمْ فَاَمَرَ بِصَوْمِهِ. البخارى و مسلم و الترمذى و ابو داود و ابن ماجه و احمد و الدارمى
 Dari Ibnu ‘Abbas RA, ia berkata : Ketika Rasulullah SAW tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa ‘Asyura’. Lalu mereka ditanya (Rasulullah SAW) tentang hal itu. Maka jawab mereka, “Hari ini adalah suatu hari yang Allah memberikan kemenangan kepada Nabi Musa dan Bani Israil atas Fir’aun, maka kami berpuasa pada hari ini untuk mengagungkannya”. Lalu Nabi SAW bersabda, “Kalau begitu kami lebih berhaq terhadap Nabi Musa daripada kalian”. Kemudian beliau memerintahkan untuk berpuasa ‘Asyura’. [HR. Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad dan Darimiy]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رض يَقُوْلُ: حِيْنَ صَامَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَ اَمَرَ بِصِيَامِهِ، قَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، اِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظّمُهُ اْليَهُوْدُ وَ النَّصَارَى. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: فَاِذَا كَانَ اْلعَامُ اْلمُقْبِلُ اِنْ شَاءَ اللهُ صُمْنَا اْليَوْمَ التَّاسِعَ. قَالَ: فَلَمْ يَأْتِ اْلعَامُ اْلمُقْبِلُ حَتَّى تُوُفّيَ رَسُوْلُ اللهِ ص. مسلم و ابو داود
 Dari Ibnu ‘Abbas RA, ia berkata : Ketika Rasulullah SAW berpuasa ‘Asyura’ (hari ke sepuluh) dan beliau memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu, para shahabat berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah suatu hari yang diagung-agungkan oleh kaum Yahudi dan Nashara”. Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Jika aku masih hidup sampai tahun depan, insya Allah kami akan berpuasa Taasi’a (hari ke sembilan). Ibnu ‘Abbas berkata, “Ternyata belum sampai tahun berikutnya beliau telah wafat”. [HR. Muslim dan Abu Dawud]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رض اَنَّ اَهْلَ الْجَاهِلِيَّةِ كَانُوْا يَصُوْمُوْنَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ وَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص صَامَهُ وَ اْلمُسْلِمُوْنَ قَبْلَ اَنْ يُفْتَرَضَ رَمَضَانُ. فَلَمَّا افْتُرِضَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللهِ ص: اِنَّ عَاشُوْرَاءَ يَوْمٌ مِنْ اَيَّامِ اللهِ، فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ، وَ مَنْ شَاءَ تَرَكَهُ. البخارى و مسلم و ابو داود و ابن ماجه و احمد و الدارمى
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar RA, bahwasanya orang-orang di masa jahiliyah mereka berpuasa ‘Asyura’ dan bahwa Rasulullah SAW beserta kaum muslimin juga berpuasa pada hari itu ketika belum diwajibkan berpuasa Ramadlan. Maka ketika sudah diwajibkan berpuasa Ramadlan, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya ‘Asyura’ itu adalah satu hari diantara hari-harinya Allah. Maka barangsiapa ingin berpuasa hendaklah ia berpuasa, dan barangsiapa yang ingin tidak berpuasa, silakan tidak berpuasa”. [HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad dan Darimiy]

و فى لفظ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لَئِنْ بَقِيْتُ اِلىَ قَابِلٍ لاَصُوْمَنَّ التَّاسِعَ. مسلم
 Dan dalam satu lafadh, Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kalau aku masih hidup sampai tahun depan, niscaya aku berpuasa hari ke-9 (bulan Muharram)”. [HR. Muslim]

عَنْ اَبِى سَعِيْدِ اْلخُدْرِيّ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ صَامَ يَوْمَ عَرَفَةَ غُفِرَ لَهُ سَنَةٌ اَمَامَهُ وَ سَنَةٌ خَلْفَهُ. وَ مَنْ صَامَ عَاشُوْرَاءَ
غُفِرَ لَهُ سَنَةٌ. الطبرانى فى الاوسط باسناد حسن
Dari Abu Sa’id Al-Khudriy RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang berpuasa ‘Arafah, diampuni baginya (dosanya) setahun yang lalu dan setahun berikutnya. Dan barangsiapa yang berpuasa ‘Asyura’, diampuni baginya (dosanya) satu tahun”. [HR. Thabrani, di dalam Al-Ausath dengan sanad hasan]
4. Puasa Sya’ban

عَنْ عَائِشَةَ اُمّ اْلمُؤْمِنِيْنَ رض اَنَّهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَصُوْمُ حَتَّى نَقُوْلَ لاَ يُفْطِرُ، وَ يُفْطِرُ حَتَّى نَقُوْلَ لاَ يَصُوْمُ. وَمَا رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص اِسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ اِلاَّ رَمَضَانَ. وَمَا رَأَيْتُهُ فِى شَهْرٍ اَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِى شَعْبَانَ. مسلم
 Dari ‘Aisyah Ummul Mukminin RA, ia berkata, “Adalah Rasulullah SAW berpuasa, sehingga kami mengira seolah-olah beliau tidak pernah berbuka. Dan (apabila) beliau tidak berpuasa, kami mengira seolah-olah beliau tidak pernah berpuasa. Dan saya tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa sebulan penuh melainkan di bulan Ramadlan, dan tidak pernah saya lihat beliau memperbanyak puasa pada bulan lain seperti bulan Sya’ban”. [HSR. Muslim]
Keterangan :
Puasa dalam bulan Sya’ban ini tidak ada ketentuan jumlah hari dan tanggal-tanggalnya, hanya yang biasa dilakukan oleh Rasulullah SAW adalah kurang dari satu bulan. Tegasnya tidak satu bulan penuh.
5. Puasa Senin dan Kamis

قَالَتْ عَائِشَةُ: اِنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ اْلاِثْنَيْنِ وَاْلخَمِيْسِ. الخمسة الا ابا داود
 Telah berkata ‘Aisyah, “Bahwasanya Nabi SAW biasa mementingkan puasa Senin dan Kamis”. [HR. Khamsah kecuali Abu Dawud]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: تُعْرَضُ اْلاَعْمَالُ كُلَّ اثْنَيْنٍ وَ خَمِيْسٍ. فَاُحِبُّ اَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَ اَنَا صَائِمٌ. احمد و الترمذى
 Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Amal-amal ditampakkan (dilaporkan) setiap hari Senin dan Kamis. Maka aku senang manakala amalku ditampakkan sedang aku berpuasa”. [HR Ahmad dan Tirmidzi]

عَنْ اَبِى قَتَادَةَ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ اْلاِثْنَيْنِ فَقَالَ: ذلِكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ وَ اُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ. احمد و البخارى و مسلم
 Dari Abu Qatadah RA bahwasanya Nabi SAW ditanya tentang berpuasa di hari Senin. Maka beliau bersabda, “Hari Senin adalah hari kelahiranku dan hari diturunkannya wahyu kepadaku”. [HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim]
6. Puasa tiga hari pada tiap bulan (Qamariah)

عَنْ مُعَاذَةَ اْلعَدَوِيَّةِ اَنَّهَا سَأَلَتْ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيّ ص: اَ كَانَ رَسُوْلُ اللهِ ص يَصُوْمُ مِنْ كُلّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ اَيَّامٍ؟ قَالَتْ: نَعَمْ. فَقُلْتُ لَهَا: مِنْ اَيّ اَيَّامِ الشَّهْرِ كَانَ يَصُوْمُ؟ قَالَتْ: لَمْ يَكُنْ يُبَالِى مِنْ أَيّ اَيَّامِ الشَّهْرِ يَصُوْمُ
 Dari Mu’adzah Al-’Adawiyah bahwasanya ia bertanya kepada ‘Aisyah istri Nabi SAW, “Apakah Rasulullah SAW berpuasa tiga hari pada setiap bulan ?”. ‘Aisyah menjawab, “Ya”. Lalu aku bertanya lagi kepadanya, “Pada tanggal berapa beliau berpuasa ?”. ‘Aisyah menjawab, “Beliau tidak peduli tanggal berapa saja berpuasa pada bulan tersebut”. [HR. Muslim juz 2, hal. 818]

عَنْ اَبِى ذَرّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ صَامَ مِنْ كُلّ شَهْرٍ ثَلاَثَةَ اَيَّامٍ فَذلِكَ صِيَامُ الدَّهْرِ. فَاَنْزَلَ اللهُ تَبَارَكَ وَ تَعَالىَ تَصْدِيْقَ ذلِكَ فِى كِتَابِهِ. مَنْ جَاءَ بِاْلحَسَنَةِ فَلَه عَشْرُ اَمْثَالِهَا. اَلْيَوْمُ بِعَشْرَةٍ
 Dari Abu Dzarr, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa berpuasa tiga hari setiap bulan, maka yang demikian itu sama dengan puasa sepanjang masa”. Kemudian Allah Tabaaraka wa Ta’aalaa menurunkan ayat yang membenarkan hal itu dalam kitab-Nya. (Barangsiapa beramal baik, maka baginya pahala sepuluh kali lipat) [Al-An’aam : 160]. Puasa satu hari sama dengan sepuluh hari (pahalanya). [HR. Tirmidzi jz 2, hal. 131, no. 759]

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: يَا اَبَا ذَرّ، اِذَا صُمْتَ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ اَيَّامٍ فَصُمْ ثَلاَثَ عَشْرَةَ وَ اَرْبَعَ عَشْرَةَ وَخَمْسَ عَشْرَةَ
 Bersabda Rasulullah SAW, “Hai Abu Dzarr, kalau engkau mau puasa tiga hari dari satu bulan, maka puasalah pada hari yang ke-13, 14 dan 15″. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 130, no. 758]
7. Puasa dengan berselang hari

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اَفْضَلُ الصَّوْمِ صَوْمُ اَخِى دَاوُدَ، كَانَ يَصُوْمُ يَوْمًا وَ يُفْطِرُ يَوْمًا وَ لاَ يَفِرُّ اِذَا لاَقَى
 Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Seutama-utama puasa adalah puasa saudaraku Dawud. Adalah beliau sehari berpuasa dan sehari tidak berpuasa, dan ia tidak lari bila bertemu musuh”. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 134, no. 767]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ: اُخْبِرَ رَسُوْلُ اللهِ ص اَنَّهُ يَقُوْلُ: َلاَقُوْمَنَّ اللَّيْلَ وَ َلاَصُوْمَنَّ النَّهَارَ مَا عِشْتُ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: آنْتَ الَّذِيْ تَقُوْلُ ذلِكَ؟ فَقُلْتُ لَهُ: قَدْ قُلْتُهُ يَا رَسُوْلَ اللهِ. فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: فَاِنَّكَ لاَ تَسْتَطِيْعُ ذلِكَ، فَصُمْ وَ اَفْطِرْ وَ نَمْ وَ قُمْ وَ صُمْ مِنَ الشَّهْرِ ثَلاَثَةَ اَيَّامٍ فَاِنَّ اْلحَسَنَةَ بِعَشْرِ اَمْثَالِهَا وَ ذلِكَ مِثْلُ صِيَامِ الدَّهْرِ. قَالَ: قُلْتُ فَاِنّى اُطِيْقُ اَفْضَلَ مِنْ ذلِكَ. قَالَ: صُمْ يَوْمًا وَ اَفْطِرْ يَوْمَيْنِ. قَالَ: قُلْتُ فَاِنّى اُطِيقُ اَفْضَلَ مِنْ ذلِكَ يَا رَسُولَ اللهِ. قَالَ: صُمْ يَوْمًا وَ اَفْطِرْ يَوْمًا وَ ذلِكَ صِيَامُ دَاوُدَ عَلَيْهِ السَّلاَمُ وَ هُوَ اَعْدَلُ الصّيَامِ. قَالَ قُلْتُ فَاِنّى اُطِيْقُ اَفْضَلَ مِنْ ذلِكَ. قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ اَفْضَلَ مِنْ ذلِكَ. قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَمْرٍو رض: َلاَنْ اَكُوْنَ قَبِلْتُ الثَّلاَثَةَ اْلاَيَّامَ الَّتِيْ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص اَحَبُّ اِلَيَّ مِنْ اَهْلِيْ وَ مَالِيْ
 Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al-’Ash, ia berkata : Rasulullah SAW diberitahu bahwasanya ia mengatakan, “Sungguh aku akan shalat malam terus-menerus dan aku akan puasa di siang harinya selama aku hidup”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Apakah kamu orang yang mengatakan demikian itu ?”. Lalu aku jawab, “Sungguh aku telah mengatakannya, ya Rasulullah”. Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya kamu tidak akan kuat yang demikian itu, maka berpuasalah dan berbukalah, tidurlah dan shalat malamlah, dan berpuasalah tiga hari setiap bulan. Karena kebaikan itu dibalas dengan sepuluh kali lipat. Maka yang demikian itu seperti berpuasa sepanjang masa”. ‘Abdullah bin ‘Amr berkata : Lalu aku berkata, “Sesungguhnya aku kuat lebih dari itu”. Beliau SAW bersabda, “Berpuasalah satu hari dan berbukalah dua hari”. ‘Abdullah bin ‘Amr berkata : Lalu aku berkata lagi, “Sesungguhnya aku kuat lebih dari itu, ya Rasulullah”. Beliau SAW bersabda, “Berpuasalah satu hari dan berbukalah satu hari, yang demikian itu puasanya Nabi Dawud AS, dan itulah puasa yang lebih adil”. ‘Abdullah bin ‘Amr berkata : Lalu aku berkata lagi, “Sesungguhnya aku kuat lebih dari itu”. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada yang lebih dari itu”. ‘Abdullah bin ‘Amr RA berkata, “Sungguh aku menerima (puasa) tiga hari yang telah disabdakan Rasulullah SAW itu lebih aku sukai daripada keluargaku dan hartaku”. [HR. Muslim juz 2, hal. 812]
Hari- hari yang dilarang berpuasa :
1. Dua hari raya : yaitu hari raya ‘Iedul Fithri dan ‘Iedul Adlha

عَنْ اَبِى سَعِيْدٍ رض قَالَ: نَهَى النَّبِيُّ ص عَنْ صَوْمِ يَوْمِ اْلفِطْرِ وَ النَّحْرِ
 Dari Abu Sa’id RA, ia berkata, “Nabi SAW telah melarang (orang) berpuasa pada hari raya ‘Iedul Fithri dan hari raya Qurban (‘Iedul Adlha)”. [HR. Bukhari juz 2, hal. 249]

عَنْ عُمَرَ بْنِ اْلخَطَّابِ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَنْهَى عَنْ صَوْمِ هذَيْنِ اْليَوْمَيْنِ، اَمَّا يَوْمُ اْلفِطْرِ فَفِطْرُكُمْ مِنْ صَوْمِكُمْ وَ عِيْدٌ لِلْمُسْلِمِيْنَ، وَ اَمَّا يَوْمُ اْلاَضْحَى فَكُلُوْا مِنْ لَحْمِ نُسُكِكُمْ
 Dari ‘Umar bin Khaththab, ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah SAW melarang dari puasa pada dua hari raya. Adapun ‘Iedul Fithri, maka itu adalah hari berbuka kalian dari puasa (Ramadlan) dan hari raya bagi orang-orang Islam. Dan adapun ‘Iedul Adlha, maka makanlah daging ibadah qurban kalian”. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 135, no. 769]
2. Hari Tasyriq, yaitu : Hari yang ke-11, 12 dan13 dari bulan Hajji (Dzulhijjah)

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: يَوْمُ عَرَفَةَ وَ يَوْمُ النَّحْرِ وَ اَيَّامُ التَّشْرِيْقِ عِيْدُنَا اَهْلَ اْلاِسْلاَمِ وَ هِيَ اَيَّامُ اَكْلٍ وَ شُرْبٍ
 Dari ‘Uqbah bin ‘Amir, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Hari ‘Arafah (di ‘Arafah), hari Nahr (menyembelih), dan hari tasyriq adalah hari raya kita orang-orang Islam. Dan hari-hari itu adalah hari makan dan minum”. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 135, no. 770]

عَنْ نُبَيْشَةَ اْلهُذَلِيّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اَيَّامُ التَّشْرِيْقِ اَيَّامُ اَكْلٍ وَ شُرْبٍ وَ ذِكْرِ اللهِ
 Dari Nubaisyah Al-Hudzaliy, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Hari-hari Tasyriq adalah hari makan minum dan menyebut (mengingat) Allah”. [HR. Muslim juz 2 hal. 800]
3. Hanya berpuasa di hari Jum’at saja

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: لاَ تَخْتَصُّوْا لَيْلَةَ اْلجُمُعَةِ بِقِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اللَّيَالىِ وَلاَ تَخُصُّوْا يَوْمَ اْلجُمُعَةِ بِصِيَامٍ مِنْ بَيْنِ اْلاَيَّامِ اِلاَّ اَنْ يَكُوْنَ فِى صَوْمٍ يَصُوْمُهُ اَحَدُكُمْ
 Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW beliau bersabda, “Janganlah kamu khususkan malam Jum’at dari malam yang lain untuk shalat dan janganlah kamu khususkan hari Jum’at dari hari yang lain untuk berpuasa, kecuali seseorang diantara kamu berpuasa padanya (tidak mengkhususkan hari Jum’at)”. [HR. Muslim juz 2, hal. 801]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص لاَ يَصُمْ اَحَدُكُمْ يَوْمَ اْلجُمُعَةِ اِلاَّ  اَنْ يَصُوْمَ قَبْلَهُ اَوْ يَصُوْمَ بَعْدَهُ
 Dari Abu Hurairah, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah SAW, “Janganlah seseorang dari kamu puasa di hari Jum’at, kecuali jika ia puasa sebelumnya atau sesudahnya”. [HR. Muslim juz 2, hal. 801]
4. Larangan menyambut Ramadlan dengan puasa

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيّ ص قَال: لاَ تَقَدَّمُوْا شَهْرَ رَمَضَانَ بِصِيَامٍ اِلاَّ اَنْ يُوَافِقَ ذلِكَ صَوْمًا كَانَ يَصُوْمُهُ اَحَدُكُمْ
 Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Janganlah kalian mendahului (menyambut) bulan Ramadlan dengan berpuasa, kecuali apabila salah seorang diantara kalian melakukan puasa yang biasa ia lakukan”. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 121, no. 735]

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: لاَ تَقَدَّمُوْا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَ لاَ يَوْمَيْنِ اِلاَّ رَجُلٌ كَانَ يَصُوْمُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Janganlah kalian mendahului Ramadlan dengan puasa sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali bagi orang yang melakukan puasa (tidak untuk menyambut Ramadlan), bolehlah ia berpuasa”. [HR. Muslim juz 2, hal 762]
5. Puasa terus-menerus

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ: فَقَالَ النَّبِيُّ ص: لاَ صَامَ مَنْ صَامَ اْلاَبَدَ، لاَ صَامَ مَنْ صَامَ اْلاَبَدَ، لاَ صَامَ مَنْ صَامَ اْلاَبَدَ
 Dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Tidak (dinamakan) berpuasa, orang yang puasa selama-lamanya. Tidak (dinamakan) berpuasa, orang yang puasa selama-lamanya. Tidak (dinamakan) berpuasa, orang yang puasa selama-lamanya “. [HR. Muslim juz 2, hal. 815]

عَنْ اَبِى قَتَادَةَ قَالَ: قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَيْفَ لِمَنْ صَامَ الدَّهْرَ؟ قَالَ: لاَ صَامَ وَ لاَ اَفْطَرَ اَوْ لَمْ يَصُمْ وَ لَمْ يُفْطِرْ
 Dari Abu Qatadah, ia berkata : Ada seseorang yang bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimanakah dengan orang yang puasa terus-menerus ?”. Beliau SAW bersabda, “Tidak ada puasa terus-menerus dan tidak ada berbuka terus-menerus, atau tidak boleh berpuasa terus-menerus dan tidak boleh berbuka terus-menerus”. [HR. Tirmidzi juz 2, hal. 133, no. 764]
6. Puasa Wishal.

عَنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رض قَالَ: نَهَى رَسُوْلُ اللهِ ص عَنِ الْوِصَالِ. قَالُوا: اِنَّكَ تُوَاصِلُ. قَالَ: اِنّى لَسْتُ مِثْلَكُمْ اِنّى اُطْعَمُ وَ اُسْقَى
 Dari ‘Abdullah bin ‘Umar RA, ia berkata : Rasulullah SAW melarang (berpuasa) wishal. Mereka (para shahabat) berkata, “Sesungguhnya engkau berpuasa wishal”. Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku tidak seperti kalian. Sesungguhnya aku diberi makan dan minum (oleh Allah)”. [HR. Bukhari juz 2, hal. 242]

عَنْ اَبِي هُرَيْرَةَ رض قَالَ : نَهَى رَسُوْلُ اللهِ ص عَنِ الْوِصَالِ. فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ: فَاِنَّكَ يَا رَسُوْلَ اللهِ تُوَاصِلُ. قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: وَ اَيُّكُمْ مِثْلِي؟ اِنّى اَبِيْتُ يُطْعِمُنِى رَبّى وَ يَسْقِيْنِي. فَلَمَّا اَبَوْا اَنْ يَنْتَهُوْا عَنِ الْوِصَالِ وَاصَلَ بِهِمْ يَوْمًا ثُمَّ يَوْمًا ثُمَّ رَاَوُا الْهِلاَلَ. فَقَالَ: لَوْ تَأَخَّرَ الْهِلاَلُ لَزِدْتُكُمْ كَالْمُنَكّلِ لَهُمْ حِيْنَ اَبَوْا اَنْ يَنْتَهُوْا
 Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW melarang dari berpuasa wishal. Lalu ada seorang laki-laki dari kaum muslimin berkata, “Sesungguhnya engkau berpuasa wishal, ya Rasulullah”. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa diantara kalian yang seperti aku ? Sesungguhnya aku bermalam sedang Tuhan ku memberi makan dan minum kepadaku”. Setelah para shahabat enggan meninggalkan puasa wishal, lalu Rasulullah berpuasa wishal bersama para shahabat satu hari, lalu satu hari lagi. Kemudian mereka melihat hilal. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Seandainya hilal itu belum muncul, tentu aku akan menambah lagi kepada kalian”. Seolah-olah beliau ingin memberikan pelajaran (agar jera) kepada para shahabat ketika mereka enggan meninggalkan puasa wishal. [HR. Muslim juz 2, hal. 774]
Boleh berniat puasa pada pagi hari bagi puasa sunnat :

عَنْ عَائِشَةَ اُمّ اْلمُؤْمِنِيْنَ قَالَتْ: دَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ ص ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ: هَلْ عِنْدَكُمْ شَيْئٌ؟ فَقُلْنَا: لاَ. قَالَ: فَاِنّى اِذَنْ صَائِمٌ. ثُمَّ اَتَانَا يَوْمًا آخَرَ فَقُلْنَا: يَا رَسُوْلَ اللهِ اُهْدِيَ لَنَا حَيْسٌ، فَقَالَ: اَرِيْنِيْهِ. فَلَقَدْ اَصْبَحْتُ صَائِمًا فَأَكَلَ
 Dari ‘Aisyah ummul mukminin, ia berkata, “Pada suatu hari Nabi SAW masuk ke rumah lalu bertanya, “Apakah  kamu  mempunyai sesuatu (makanan) ?” Kami menjawab, “Tidak ada”. Maka beliau bersabda, “Bila demikian maka aku akan berpuasa”. Dan pada hari yang lain beliau datang pula, maka kami berkata, “Ya Rasulullah, ada orang yang menghadiahkan hais (makanan yang dibuat dari korma, samin dan susu kambing) kepada kita”. Beliau bersabda, “Perlihatkanlah kepadaku, karena sesungguhnya aku berpagi dalam keadaan berpuasa”. Kemudian beliau makan”. [HR. Muslim juz 2, hal. 809]
Seorang istri dilarang berpuasa sunnah tanpa seidzin suami :

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ رض اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ:لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ اَنْ تَصُوْمَ وَ زَوْجُهَا شَاهِدٌ اِلاَّ بِاِذْنِهِ
 Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Tidak halal seorang perempuan berpuasa (sunnah) bila suaminya tidak bepergian melainkan seidzinnya”. [HR. Bukhari juz 6, hal 150].

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: لاَ تَصُوْمُ اْلمَرْأَةَ وَ بَعْلُهَا شَاهِدٌ اِلاَّ بِاِذْنِهِ
 Dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Seorang wanita tidak boleh berpuasa (sunnah), padahal suaminya tidak bepergian, melainkan seidzinnya”. [HR. Bukhari juz 6, hal. 150]

Ya Allah berikan kekuatan kepada kami sehingga termasuk pengamal puasa sunnah dengan ikhlas dan istiqomah.
Sumber : Brosur Ahad Pagi MTA

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar